
Tanah yang Hilang dari Doa
CERPEN
Oleh: Hadi Sastra
7/1/2026


DESA itu dahulu hidup dengan tenang, seolah waktu berjalan lebih lambat dibanding tempat-tempat lain. Pagi datang bersama kabut tipis dari sawah, suara ayam jantan, dan derit sepeda para petani yang berangkat sebelum matahari benar-benar terbit. Menjelang sore, anak-anak bermain di jalan tanah sambil tertawa tanpa beban. Malam hari dipenuhi suara mengaji dari rumah-rumah kayu dan percakapan para lelaki tua di gardu bambu.
Di tengah desa terdapat sebidang tanah wakaf yang telah lama dijaga warga. Tanah itu tidak luas, tetapi cukup untuk membangun masjid kecil dan majelis taklim. Orang-orang menyebutnya tanah amal, sebab dahulu seorang saudagar tua mewakafkannya sebelum meninggal dunia.
Bertahun-tahun warga membicarakan rencana pembangunan masjid itu.
Para ibu membayangkan pengajian rutin selepas Magrib. Para bapak berharap anak-anak mereka kelak belajar membaca Al-Qur’an di sana. Bahkan beberapa orang sudah mulai mengumpulkan kayu dan batu sedikit demi sedikit untuk persiapan pembangunan.
Namun harapan sering kali kalah oleh keputusan-keputusan yang datang dari tempat jauh.
Suatu siang, beberapa mobil dinas memasuki desa dan berhenti di depan balai desa. Orang-orang berdasi turun sambil membawa map tebal dan gulungan gambar bangunan. Kepala desa menyambut mereka dengan senyum yang terlihat dipaksakan.
Warga segera berkumpul.
Di atas meja dipasang gambar sebuah toko swalayan besar lengkap dengan area parkir dan papan nama yang mencolok. Bangunan itu tampak asing di tengah desa yang selama ini hanya diramaikan warung-warung kecil di antara rumah-rumah sederhana.
“Ini program pembangunan desa modern,” kata salah seorang pejabat dengan suara mantap. “Semua biaya pembangunan ditanggung pemerintah pusat.”
Warga mulai berbisik kagum.
“Gratis semuanya?”
“Barang dagangannya juga dari pusat?”
“Modal operasional juga?”
Pejabat itu mengangguk sambil tersenyum percaya diri.
Sebagian warga terlihat gembira. Mereka membayangkan desa mereka akhirnya ikut maju seperti kota-kota kecil di televisi.
Kepala desa lalu berdeham pelan sebelum berbicara.
“Lokasi pembangunan berada di tanah wakaf tengah desa.”
Suasana mendadak hening.
Seorang pemuda duduk di deretan belakang balai desa. Sedari tadi ia hanya diam sambil memperhatikan wajah orang-orang. Namun, kalimat yang disampaikan sang kepala desa membuatnya berdiri. Ia mulai mengatur napas.
“Itu tanah untuk masjid,” katanya.
Suaranya tidak keras, tetapi cukup membuat seluruh ruangan menoleh kepadanya.
Kepala desa tampak gugup. “Rencana pembangunan bisa disesuaikan demi kepentingan bersama.”
Pemuda itu menatap lurus ke arah meja para pejabat.
“Kepentingan siapa?”
Tak ada yang segera menjawab.
Beberapa warga mulai gelisah. Ada yang meminta pemuda itu duduk kembali. Ada pula yang mulai saling berbisik.
Pejabat dari kota tersenyum tipis, lalu menjelaskan panjang lebar tentang pertumbuhan ekonomi desa, lapangan kerja baru, dan kemajuan zaman. Kata-katanya terdengar rapi dan meyakinkan.
Namun, pemuda itu tetap berdiri.
“Kalau tanah wakaf bisa dipindahkan untuk bangunan lain,” katanya perlahan, “berarti amanah warga juga bisa dipindahkan kapan saja.”
Ucapan itu membuat udara di balai desa terasa berat.
***
Pembangunan dimulai beberapa hari kemudian.
Pohon-pohon ditebang. Tanah diratakan alat berat. Pagar seng dipasang mengelilingi area proyek hingga warga hanya bisa melihat dari celah-celah sempit di pinggir jalan.
Pemuda itu hampir setiap hari datang ke sana.
Ia memperhatikan para pekerja yang sibuk mengaduk semen, mengangkat besi, dan memasang pondasi. Tak satu pun wajah mereka dikenalnya.
Mereka datang dari luar daerah.
Truk-truk material juga berasal dari kota. Mandor proyek berbicara dengan logat asing bagi telinga warga desa.
Suatu sore, pemuda itu bertanya kepada seorang pekerja bangunan, “Kenapa warga sini tidak dipakai bekerja?”
Lelaki itu hanya tertawa kecil.
“Kami cuma ikut perintah.”
Jawaban itu terasa seperti batu yang dilempar pelan ke dalam dadanya.
Malam-malam berikutnya ia mulai berbicara kepada warga. Kadang di gardu bambu, kadang di warung kopi, kadang di teras rumah selepas Isya.
“Kalau pembangunan ini benar untuk desa,” katanya suatu malam, “kenapa warga desa sendiri tidak dilibatkan?”
Sebagian orang mulai mengangguk.
Namun, sebagian lain merasa jengah.
“Kamu terlalu curiga.”
“Desa mau maju malah dipersoalkan.”
“Apa masjid bisa membuat ekonomi tumbuh?”
Pemuda itu tidak marah mendengar tudingan-tudingan itu. Ia hanya semakin sering bicara tentang tanah wakaf, tentang hak warga, dan tentang desa yang perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Sementara itu kepala desa terlihat semakin murung.
Ia sering dipanggil ke kecamatan dan pulang larut malam dengan wajah letih. Orang-orang melihat matanya semakin cekung dari hari ke hari.
Suatu malam ia mendatangi rumah pemuda itu secara diam-diam.
Hujan turun tipis ketika mereka duduk di teras.
“Aku mengerti maksudmu,” kata kepala desa lirih sambil menunduk. “Tapi semua ini keputusan dari atas.”
“Kenapa tidak Bapak tolak?”
Kepala desa terdiam cukup lama.
“Aku tidak punya kuasa.”
Pemuda itu memandangnya lekat-lekat.
“Kalau semua orang takut melawan,” katanya pelan, “desa ini akhirnya milik siapa?”
Hanya suara hujan yang terdengar setelah itu.
***
Enam bulan kemudian swalayan itu selesai dibangun.
Bangunannya berdiri megah di tengah desa dengan ornamen menarik dan lampu-lampu putih yang menyala terang setiap malam. Dari kejauhan, tempat itu tampak seperti potongan kota yang dipindahkan secara paksa ke tengah sawah.
Hari pembukaan berlangsung meriah.
Anak-anak kecil berlarian di lorong-lorong toko sambil tertawa kagum dan sebagian berterik-terik. Ibu-ibu sibuk melihat rak-rak makanan yang tersusun rapi. Musik dari pengeras suara terdengar asing di telinga warga yang terbiasa dengan suara jangkrik malam.
Tetapi, rasa kagum itu tidak bertahan lama.
Warga mulai sadar bahwa seluruh pekerja swalayan berasal dari luar daerah. Kasir, petugas keamanan, manajer toko, bahkan petugas gudangnya bukan orang desa mereka.
Barang-barang yang dijual pun tidak berasal dari warga setempat.
Tidak ada beras hasil panen petani desa. Tidak ada keripik buatan ibu-ibu kampung. Tidak ada kerajinan bambu hasil tangan warga.
Semuanya datang dari luar.
Pemuda itu kembali berbicara di hadapan warga yang berkumpul di gardu.
“Kita kehilangan tanah wakaf,” katanya. “Sekarang kita kehilangan pekerjaan dan hak hidup di desa sendiri.”
Kali ini lebih banyak orang yang diam.
Mereka mulai merasakan keganjilan yang selama ini coba diabaikan. Banyak warung kecil yang mulai menggeliat, beberapa sudah tutup karena kalah bersaing dengan toko raksasa itu.
***
Ancaman mulai berdatangan.
Mula-mula hanya kata-kata kasar dan sindiran. Setelah itu rumah pemuda itu dilempari batu pada tengah malam. Ibunya mulai ketakutan setiap kali mendengar suara motor berhenti di depan rumah.
Tetapi pemuda itu tidak berhenti.
Suatu malam beberapa lelaki asing menghadangnya di jalan dekat kebun tebu.
Tanpa banyak bicara mereka memukulnya hingga jatuh ke tanah berlumpur. Darah mengalir dari pelipisnya.
Salah seorang lelaki membungkuk dan berkata pelan, “Berhenti melawan kalau masih ingin hidup tenang.”
Pemuda itu justru tersenyum tipis meski bibirnya berdarah.
Keesokan paginya kabar pemukulan menyebar ke seluruh desa. Warga larut dalam desas-desus.
Dan untuk pertama kalinya, kemarahan warga mulai tumbuh secara terbuka.
Orang-orang berkumpul hampir setiap malam. Mereka membicarakan tanah wakaf, ketidakadilan, dan campur tangan orang-orang luar terhadap desa mereka.
Suasana desa berubah tegang.
Aparat keamanan mulai berjaga di beberapa titik. Mobil patroli hilir mudik hingga larut malam.
Lalu, semuanya pecah.
Tak ada yang benar-benar tahu siapa yang memulai.
Malam itu terdengar suara kaca pecah dari arah balai desa. Orang-orang berteriak di jalan. Api tiba-tiba membubung tinggi dari swalayan yang baru berdiri beberapa bulan.
Bangunan itu terbakar hebat.
Lampu-lampunya pecah satu demi satu di tengah kobaran api. Asap hitam naik ke langit malam seperti luka yang akhirnya terbuka.
Anak-anak menangis. Orang-orang berlari. Sirene meraung tanpa henti.
Desa yang dahulu tenang berubah menjadi tempat yang penuh ketakutan.
***
Dua hari kemudian aparat datang menangkap pemuda itu.
Tangannya diborgol di depan rumahnya sendiri.
Ibunya menangis histeris sambil mengejar anak semata wayangnya. Namun, ia akhirnya hanya bisa memeluk tiang teras. Warga hanya berdiri jauh dengan wajah pucat dan mata penuh ketakutan.
Tak seorang pun berani mendekat.
Kepala desa berdiri di depan kantor yang hangus terbakar. Wajahnya kosong seperti orang yang kehilangan sesuatu yang tak mungkin kembali.
Sebelum masuk ke mobil aparat, pemuda itu sempat menoleh ke arah tanah bekas swalayan yang kini penuh abu hitam.
Entah mengapa, di matanya tempat itu masih tampak seperti halaman masjid yang belum sempat dibangun.
Ia tersenyum kecil.
Lalu, mobil itu membawanya pergi meninggalkan desa.
Setelah hari itu, tak ada lagi kabar tentang dirinya.
Ada yang bilang ia dipenjara jauh di luar daerah. Ada yang percaya ia diasingkan diam-diam. Sebagian lain yakin ia telah dibunuh.
Tak seorang pun benar-benar tahu.
Tahun-tahun berlalu.
Rumput liar tumbuh di bekas bangunan swalayan yang terbakar. Anak-anak kecil bermain layang-layang di sana tanpa memahami apa yang pernah terjadi di tempat itu.
Namun, orang-orang tua di desa masih sering mengingat seorang pemuda asli warga desa yang pernah berdiri sendirian melawan keputusan besar demi mempertahankan sebidang tanah kecil.
Tanah yang dahulu diniatkan untuk tempat beribadah dan menimba ilmu agama. Tanah yang kini telah hilang dari doa-doa warga desa yang telah hilang harapan.(*)


--------------------------
HADI SASTRA
Penulis yang bernama asli Washadi adalah seorang Dosen Sastra Indonesia Universitas Pamulang dan Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 8 Kota Tangerang Selatan. Menjadi Ketua Panitia Musyawarah Besar Seniman-Budayawan Kota Tangerang Selatan; Ketua Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS); Ketua MGMP Bahasa Indonesia SMP Kota Tangerang Selatan; Pembina MGMP Bahasa Indonesia Gugus 05 SMP Kota Tangerang Selatan; Ketua DPW Asosiasi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia (AGBSI) Provinsi Banten; Pengurus Asosiasi Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia (ADOBSI) Provinsi DKI Jakarta; Pendiri Lembaga Teroka Indonesia, dan Founder bahasacerdas.com. Karyanya diterbitkan dalam 80-an buku antologi puisi, kumpulan cerpen, jurnal ilmiah, dan prosiding.
INIIBUBUDI
Sejak 17 Februari 2016
Iniibubudi.com merupakan media sastra dan budaya, terbit setiap bulan. Menerima karya-karya: puisi, cerpen, esai, naskah lakon dan pemberitaan kegiatan seni dan kebudayaan dari seluruh Indonesia.
KANTOR REDAKSI: JL. Kelapa Sawit V/6 RT02 RW04 Megawon, Jati, Kudus, 59342 TELEPON/HP: 0857-1203-0122 PENERBIT: INIIBUBUDI TERDAFTAR: AHU-0023706-AH.01.16 Tahun 2026 No. Akta: 73 DONASI KASIH IINIIBUBUDI: Rekening Bank BRI KC Kudus Nomor: A/C 0038-01-003875-56-6 E-MAIL REDAKSI: iniibubudi.publishing@gmail.com




