Tempat yang Hanya Kita Ketahui

PUISI

Karya: Khaylila Indika Putri

10/1/2026

Menuang Kecap Asin

ada sumur yang tak sempat disebut dalam

manusia bukan menggali tapi menyendok dengan mudah

disajikan hangat dan beraroma

dalam kaldu rasa dan suka

racik sesuai selera dan dituang beragam penyedap

ada saat di mana monosodium glutamat ikut serta

bumbu semacam saus tiram merasa janggal

dari kuali ke pinggan keramik

semerbak bau-bau utuh

bukan kedelai hitam manis itu

bukan pula saus tomat yang asam

hanya satu sendok makan saja tak cukup meramu kehendak perasa

lebih baik di atas api yang diguncang

rempah tumisan getir dari merica

tuang saja secukupnya

sekedar pelarut yang handal

sejumput garam padu rasa

masin dari kedelai kekuningan

atau gurih kasih yang diminta selama ini

bukan lagi hambar dan langu yang dulu

(Balam, 2026)

Tentang Bunga-Bunga

ada semacam hama yang hinggap di sana

dedaunan berlubang di tepian

seperti usia yang lekas renta

batang kokohnya melepas lemasnya kuning senja

sutra-sutra itu berjanji setelah bersemayam

larva menggelitik akan hadirkan simbion

pada sayapnya yang merekah menebar hilir mudik dikemudian hari

saat antera bersandar pada putiknya

kosa kata tanaman mengusut manis nektar bunga

serbuk sari fasih merapal larik-larik dari sebuah stigma

sebuah kecambah, seperti tunas kecil

menguar diantara ujung tangkai

semacam cawan telah kuncup

rupa warna kelopak merah muda atau magenta

menunggu dengan iringan yang sama

semestinya wewangian sudah kau hirup dalam-dalam

meski ia belum mekar dengan genap

ada semacam janji yang harus dipetik

(Gedong air, 2026)

Bila Kau Bertamasya

:Ist das der Feind oder der Freund?

ada masa kala gundah di rumah membuatmu merasuk dan merusak

mulai dari sekarang ransel batu di bahu kau pikul selamanya

saat pendengar dan penerjemah hatimu hilang

bahasa asing memulai kerontang di kepalamu yang kosong

tak pernah kau jumpai hari bila kau bertamasya dengannya

perahu berlabuh di bendungan oyama

orang-orang di situ tahu pasti panggilan yang karib denganmu

maniak kebebasan yang berkelana di atas lautan lepas

kau tak pernah tahu bila saatnya tiba

petal asing menujah bisa saja jantungmu

sekedar pengingat untukmu kelak

keutuhan sesaat itu bukanlah kekal

(Tanjung Karang, 2026)

Kepada Putri

siapa yang tahu bangsawan seperti wanita adalah gelora di dada?

barangkali pria atau lelaki muda selalu menyusup pada belaiannya

sejatinya peduli itu bukan sekedar perlu

bernaung sendiri di balik panjangnya usia

bahkan umpama tak ada yang serupa mengukir rupanya

koreng di muka dan hati

memenggal rayuannya yang dahayu

padanya dinasti-dinasti berhulu

tepi negeri kelak akan menjelma

dari balik ketiaknya yang membela

dengki berlaluan dari satu rahim

dan seluruhnya luruh

(Tanjung Karang, 2026)

Tempat yang Hanya Kita Ketahui

1/

arsir kelabu dalam bayanganmu

remah-remah yang diludahi pecundang

menerima ucap “kenapa demikian?” seluas tabah di dada

rasa tengik mengelabui keram di hati

hanya jentikan jari saja yang bisa merangkul keberadaan sukma

memang sempitnya bumi bukan main

deretan salah itu milikmu seorang

bawalah kepulan itu bersama uratmu yang rapat

uratmu yang sentiasa kau tuntun ke pasar-pasar malam

atau desa yang kumuh

sekalipun dengan sosok kumal

pernah ada aliran nadimu yang bercabang pada untung

membiru layaknya ombak yang lancang

tanpa menyebut warna arteri di belahan jiwamu

2/

getah mana yang kau tuai nanti

barangkali wujud satir tanpa menguliti

hilang terbang bersama sepi pemuja

umur-umur senjakala

taruhan yang tenggelam bersama porosnya kelak

bisa jadi kau singgahi sekali lagi

terminal surgawi di sana

bersama uratmu yang putus kemarin

(Way Hui, 2026)

Apakah Semua Malaikat Bersayap?

aku adalah insan

yang mendengar risalah dari pendahulu

bayanganku tentang mereka adalah sesuatu yang tak kunamai

mengenai pengertian dari sebuah taat

andai kita sama yang terbuat dari puing tanah

dimensi mengenaimu kuusut dengan akal saja

tak hanya sekedar kuketahui dari ayat-ayat suci

lalu tampak dan kusimpulkan sendiri

apakah cahaya itu melekat hingga ujung wujudmu?

yang tak akan kujumpai sekalipun dalam tanya-tanyaku

apakah benar ratusan sayap itu bisa jadi milikmu?

burung dan serangga manapun tak ada yang punya

bagaimana jika ada yang menorehkan sebutmu dalam wujud tanah liat?

karena sebuah kebajikan yang tanggal

diiringi dosa-dosa lampau

(Pulau Sebesi, 2026)

TEMPAT YANG HANYA KITA KETAHUI
Puisi-puisi Karya: Kaylila Indika Putri

--------------------------
KAYLILA INDIKA PUTRI
Saat ini masih menempuh pendidikan S1 Psikologi di salah satu Universitas swasta provinsi Lampung. Cerpen yang pernah menembus Lampung Post tahun 2022 berjudul Kesunyian Senja dan Simalingkar (2023) di Radar Lampung. Mengikuti komunitas menulis di beberapa penerbit platform. Karya yang lolos dalam antologi seperti sajak Mosaik (2025) di penerbit Listaka dan Kacamata Antik (2023) di Bastera Lampung.

Iniibubudi © 2027 | Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Iniibubudi.com merupakan media sastra dan budaya, terbit setiap bulan. Menerima karya-karya: puisi, cerpen, esai, naskah lakon dan pemberitaan kegiatan seni dan kebudayaan dari seluruh Indonesia.

KANTOR REDAKSI: JL. Kelapa Sawit V/6 RT02 RW04 Megawon, Jati, Kudus, 59342 TELEPON/HP: 0857-1203-0122 PENERBIT: INIIBUBUDI TERDAFTAR: AHU-0023706-AH.01.16 Tahun 2026 No. Akta: 73 DONASI KASIH INIIBUBUDI: Rekening Bank BRI KC Kudus Nomor: A/C 0038-01-003875-56-6 E-MAIL REDAKSI: iniibubudi.publishing@gmail.com

Ikuti di Instagram: