Ketika Panggung Belum Padam: Dari "Sebrang Mbalangan" ke "Nitisemito De Kretek Koning"

ESAI

Oleh: Nur Choiruddin

9/1/2026

ADA satu hal menarik dari esai Imam Khanafi, Nitisemito Sudah Naik Panggung, Tetapi Sejarah Belum Selesai”. Ia membawa sebuah pertunjukan teater keluar dari batas malam pementasan. Nitisemito: De Kretek Koning tidak diperlakukan sebagai cerita yang selesai ketika lampu panggung dipadamkan, melainkan sebagai bagian dari percakapan yang lebih panjang tentang sejarah, dramaturgi, ingatan, dan bagaimana sebuah peristiwa kesenian dicatat.

Imam membawa satu kata penting: arsip.

Kritik, dalam pandangannya, dapat menjadi bagian dari kerja pengarsipan: mencatat apa yang berhasil, apa yang janggal, apa yang terlewat, sekaligus kemungkinan yang masih terbuka. Dengan begitu, pertunjukan tidak berhenti sebagai peristiwa sesaat, tetapi meninggalkan jejak yang dapat dibaca kembali.

Saya sepakat. Namun, jika Nitisemito hendak diarsipkan, rasanya yang perlu dicatat tidak cukup hanya pertunjukannya. Kita juga perlu melihat perjalanan yang membuat pertunjukan itu mungkin.

Sebab Nitisemito: De Kretek Koning tidak lahir dari ruang kosong.

Dari Sebrang Mbalangan ke Raja Kretek
Jauh sebelum Nitisemito: De Kretek Koning, ada Sebrang Mbalangan.

Lakon karya Edi Buseng Purnomo itu dipentaskan Teater Keset pada 2016. Indonesia Kaya mencatatnya sebagai produksi ke-13 Teater Keset, sebuah karya berbahasa Jawa yang membawa kehidupan masyarakat Kudus ke atas panggung dan memuat kritik sosial.

Pentingnya Sebrang Mbalangan bukan semata-mata karena menggunakan bahasa Jawa atau mengambil latar lokal. Yang lebih penting adalah keberaniannya menjadikan kehidupan masyarakat sendiri sebagai bahan teater.

Sebrang Mbalangan adalah ruang sosial: kampung, pasar, relasi antarmanusia, kepentingan, konflik, persoalan sehari-hari, dan perubahan yang berlangsung di sekitarnya.

Di sana Teater Keset telah menunjukkan pilihan artistik yang penting. Mereka tidak sekadar membuat cerita tentang Kudus, tetapi mencoba membaca Kudus melalui teater.

Sebrang Mbalangan juga berada di seberang rumah Nitisemito, sosok yang kemudian dikenal sebagai Raja Kretek. Di satu sisi terdapat figur besar sejarah ekonomi dan industri kretek. Di sisi lain terdapat kehidupan masyarakat biasa yang mengalami perubahan sejarah itu dalam keseharian.

Kudus, dengan demikian, dapat dilihat dari dua sisi: pusat dan pinggir, rumah besar dan kampung di seberangnya, tokoh yang masuk buku sejarah dan masyarakat yang menjalani akibat dari sejarah tersebut.

Dalam konteks inilah Sebrang Mbalangan menjadi penting. Ia bukan sekadar lakon lokal, melainkan salah satu cara Teater Keset melihat kotanya dari jarak dekat.

Lebih jauh lagi, gagasan tentang Nitisemito juga berangkat dari Edi Buseng Purnomo. Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi naskah Nitisemito: De Kretek Koning yang ditulis Agung Widodo.

Pembedaan antara gagasan dan penulisan naskah ini penting. Sebuah pertunjukan tidak selalu lahir dari satu tangan. Ada gagasan awal, ada proses pengolahan menjadi teks, lalu ada sutradara, aktor, pemusik, koreografer, kru, dan penonton yang memberi bentuk serta makna baru.

Karena itu, sejarah Nitisemito: De Kretek Koning semestinya tidak diputus dari jejak sebelumnya.

Ada mata rantai kreatif yang perlu dicatat: Edi Buseng Purnomo dan Sebrang Mbalangan, gagasan tentang Nitisemito, naskah Agung Widodo, lalu pementasan Teater Keset.

Dari kampung menuju Raja Kretek. Dari kehidupan sehari-hari menuju sejarah industri. Dari seberang menuju pusat.

Pulang kepada Cerita Sendiri
Pilihan untuk menjadikan lingkungan sendiri sebagai bahan penciptaan juga menarik jika ditempatkan dalam persoalan teater lokal.

Ariel Heryanto, dalam “Teater Indonesia Itu Tidak Ada” pada 1986, pernah mengingatkan problem teater lokal ketika terlalu berkiblat kepada pusat. Ketika pekerja teater daerah kehilangan kepekaan terhadap lingkungan sendiri dan tidak lagi percaya pada kreativitasnya, penonton lokal dapat menjauh dan kehidupan teater pun terancam runtuh.

Peringatan itu masih relevan.

Teater lokal memiliki pengalaman, persoalan, ruang sosial, dan sejarah sendiri. Tantangannya adalah apakah semua itu dipercaya sebagai bahan penciptaan artistik.

Dalam perjalanan Teater Keset, jawabannya tampaknya cukup jelas.

Mereka berkali-kali menjadikan lingkungan sekitar sebagai bahan pembacaan: kampung, pasar, relasi sosial, perubahan ruang, sejarah ekonomi, hingga tokoh yang hidup dalam ingatan kota.

Cerita lokal memang memiliki risiko karena terlalu dekat dan terlalu akrab. Penonton mengenali tempat, orang, bahkan persoalan yang sedang dibicarakan. Namun kedekatan itu justru memberi teater kemungkinan untuk menjadi cermin.

Masyarakat tidak selalu melihat dirinya dalam bentuk yang menyenangkan. Kadang justru melalui sesuatu yang membuatnya tidak nyaman dan kemudian bertanya.

Karena itu, pilihan Teater Keset terhadap cerita lokal tidak perlu dibaca sebagai keinginan menjadi “teater daerah” dalam pengertian sempit. Ia lebih tepat dipahami sebagai kepercayaan bahwa pengalaman lokal mempunyai nilai artistik dan sosialnya sendiri.

Kritik, Arsip, dan Daya Tahan
Kritik Imam terhadap Nitisemito: De Kretek Koning tetap penting. Ia mempertanyakan hubungan antara fakta sejarah dan tafsir artistik, termasuk bagaimana tokoh sejarah dipindahkan dari dokumen ke panggung serta bagaimana relasi kuasa dibangun melalui tubuh, suara, dan permainan.

Sebuah karya yang mengangkat sejarah memang tidak seharusnya kebal terhadap pertanyaan tentang sejarah. Teater berhak menafsirkan, penonton berhak mempertanyakan, dan kritik menjaga agar percakapan tidak berhenti pada tepuk tangan.

Namun, jika kritik menjadi bagian dari arsip, maka yang perlu disimpan bukan hanya kekurangan sebuah pertunjukan. Keberanian yang melahirkannya juga merupakan bagian dari sejarah.

Di sinilah gagasan Ariel Heryanto mengenai daya tahan menjadi relevan.

Ketika membicarakan Teater Koma, Ariel memberi perhatian pada kemampuan sebuah kelompok untuk bertahan dalam rentang waktu panjang. Daya tahan bukan sekadar usia organisasi, tetapi kemampuan untuk terus bekerja, berubah, dan menemukan alasan untuk tetap hidup.

Tentu ini bukan berarti menyamakan keberadaan Teater Keset dengan kebesaran Teater Koma semata-mata.

Yang menarik adalah pertanyaannya: bagaimana sebuah kelompok kesenian lokal tetap bekerja ketika banyak kelompok lain perlahan meninggalkan panggung?

Kita terlalu sering menilai kesenian dari produk akhirnya: apakah pertunjukannya bagus, aktornya kuat, atau naskahnya berhasil. Padahal ada persoalan yang lebih mendasar: apakah kelompok itu masih berkumpul, berlatih, mencari pemain, memproduksi pertunjukan, dan mencari penonton?

Bertahan bukan berarti selalu berhasil. Bertahan juga bukan berarti bebas dari kritik. Tetapi kelompok yang bertahan masih mempunyai kesempatan untuk memperbaiki diri.

Dalam konteks itulah keberadaan Teater Keset penting dibaca.

Aktor Berganti, Kelompok Berjalan
Imam juga membayangkan kemungkinan hadirnya Paijan, Jessy, dan Cipho dalam komposisi pemain Nitisemito: De Kretek Koning. Saya memahami gagasan tersebut sebagai kemungkinan artistik.

Namun dalam kehidupan kelompok teater, pergantian pemain adalah sesuatu yang wajar. Ada pemain lama yang berhenti, pemain baru yang masuk, sebagian kembali, sebagian lainnya tidak. Komposisi kelompok tidak pernah benar-benar permanen.

Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan siapa yang tidak bermain, melainkan siapa yang masih bersedia bermain ketika kelompok memutuskan untuk naik panggung?

Dalam Nitisemito: De Kretek Koning, mereka yang hadir merupakan wajah Teater Keset pada salah satu fase perjalanannya.

Ada Muhammad Hanif Hidayatullah, Wahyuningtyas, Pipiek Isfianti, Nur Syamsuddin, Muhammad Zaini Arsyad, Mohammad Humam Azka Reformasiyanto, Nafa Rahma Dani, Windy Aulia, Satria Cahya Pratama, Hadi Susilo, Danang Ahda Abdillah, Ahmad Mujib, Wanodya Sasmitaning Nata, Danaya Mahanna Nurwantara, Ali Murtadho, Pramudita Hesti Ananta, Muhammad Nabil Setyo Al Rasyid, Alzimii ‘Azma, dan M. Syarifuddin Arwani.

Ada pula Paijan Zaki Yamani, M. Fuad Faisal, Eko Setiawan Adrianto, Hanafi Yazid, Achmad Sutandi, dan Hisyam Hidayatullah melalui musik; Siwi Agustina dan Sabila Aulia Puspitasari melalui koreografi; Cipho Noor Hadi sebagai sutradara, bersama Agung Widodo dan Wahyudi sebagai asisten sutradara.

Di belakang panggung ada Petrus sebagai pimpinan produksi, Eddy Susanto sebagai stage manager, Muhammad Dzulhilmi Yazid dan Nurul Chusnaenny dalam dokumentasi dan publikasi, Muhammad Afril Miftaahuddin dalam setting, serta Rezky Pratamaylida dan Candra Asih Intiyaningtiyas dalam mekanik kostum.

Nama-nama tersebut mungkin tidak semuanya dikenal penonton. Tetapi mereka adalah bagian dari arsip pertunjukan.

Teater tidak lahir hanya dari orang-orang yang berdiri di bawah cahaya. Ada banyak tangan yang membuat cahaya itu mungkin.

Ketika Taman Budaya Kembali Menjadi Ruang Kebudayaan
Ada pula bagian lain dari Nitisemito yang menurut saya layak dicatat: tempat pertunjukan itu berlangsung, Taman Budaya Kudus.

Ada ironi ketika sebuah kota memiliki taman budaya, tetapi ruang kebudayaannya terasa suwung. Peristiwa kesenian tidak berlangsung sebanyak yang semestinya.

Padahal ruang kebudayaan bukan sekadar gedung. Ia membutuhkan seniman, komunitas, penonton, dan terutama peristiwa.

Ketika sebuah ruang terlalu lama kosong, yang hilang bukan hanya pertunjukan. Kebiasaan masyarakat untuk datang dan mengalami kesenian pun dapat ikut menghilang.

Karena itu, pementasan Nitisemito: De Kretek Koning pada 29 Agustus lalu mempunyai arti yang lebih luas daripada penilaian dramaturginya.

Untuk satu malam, Taman Budaya kembali dipenuhi sebuah peristiwa kesenian. Lampu menyala, musik terdengar, aktor bergerak, kru bekerja, dan penonton hadir.

Ruang itu kembali menjalankan fungsinya. Hal tersebut mungkin tidak masuk dalam penilaian apakah Nitisemito: De Kretek Koning berhasil sebagai drama musikal. Tetapi ia merupakan bagian dari sejarah kebudayaan kota.

Apa yang Perlu Diarsipkan?
Karena itu, jika kita benar-benar ingin mengarsipkan Nitisemito, arsip tersebut sebaiknya tidak berhenti pada satu malam pementasan.

Catat Sebrang Mbalangan. Catat Edi Buseng Purnomo dan perjalanan gagasannya. Catat bagaimana gagasan Nitisemito kemudian diolah Agung Widodo menjadi naskah. Catat sutradara, aktor, pemusik, koreografer, kru, pemain yang datang dan pergi, serta penonton.

Catat pula ruang tempat pertunjukan berlangsung. Dan jangan takut mengarsipkan kritik serta kegagalan. Sebab arsip yang baik tidak hanya menyimpan sesuatu yang dianggap berhasil. Ia menyimpan proses, perdebatan, perubahan, bahkan kemungkinan yang belum selesai.

Dengan demikian, sejarah Teater Keset tidak berhenti menjadi daftar judul pertunjukan. Ia menjadi rekaman tentang bagaimana sebuah kelompok mencoba membaca masyarakatnya sendiri dari waktu ke waktu.

Sebrang Mbalangan adalah salah satu bagian penting dari perjalanan itu. Demikian pula Salah Kejadian karya Idham Ardhi Nurcahyo, Kost Pak Uger, hingga upaya memberi ruang bagi kelompok pelajar.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa Keset tidak hanya memproduksi pertunjukan, tetapi juga berusaha menjaga kesinambungan kehidupan kelompok dan membuka ruang regenerasi.

Lampu yang Belum Padam
Pada akhirnya, Nitisemito: De Kretek Koning mungkin masih menyisakan pertanyaan. Itu bukan persoalan. Justru pertanyaan membuat teater tetap hidup.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika tidak ada lagi pertunjukan yang dapat dipertanyakan: ketika kelompok berhenti mencoba, pemain berhenti berlatih, penonton kehilangan kebiasaan datang, dan ruang kebudayaan kembali kosong.

Kesenian jarang mati dengan suara keras. Ia lebih sering menghilang perlahan.

Karena itu, keberadaan Teater Keset layak dibaca bukan hanya dari berhasil atau tidaknya satu pertunjukan, tetapi dari perjalanan panjang yang membentuknya.

Dari Sebrang Mbalangan, dari gagasan tentang Nitisemito yang kemudian diolah menjadi naskah, dari pemain-pemain yang silih berganti, hingga panggung yang kembali dinyalakan di Taman Budaya Kudus.

Di sana ada sejarah sebuah kelompok: sejarah yang tumbuh dari kota sendiri, dari cerita sendiri, dari orang-orang yang bekerja tanpa selalu berada di pusat perhatian.

Nitisemito: De Kretek Koning telah turun dari panggung. Penonton telah pulang. Set mungkin telah dibongkar. Tetapi pertanyaan yang lebih penting justru baru dimulai: Setelah ini, Teater Keset akan mementaskan apa lagi?

Selama pertanyaan itu masih ada, selama masih ada orang yang bersedia menjawabnya dengan latihan dan pertunjukan, kesenian belum selesai.

Lampunya belum padam!(*)

Pertunjukan "Nitisemito, De Kretek Koning" yang dimainkan Keluarga Segitiga Teater di Taman Budaya Kudus (29/8). Dok: IST.

--------------------------
NOR CHOIRUDDIN
Penulis bekerja di MNC Media, dan Dewan Penasehat Keluarga Segitiga Teater

Iniibubudi © 2027 | Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Iniibubudi.com merupakan media sastra dan budaya, terbit setiap bulan. Menerima karya-karya: puisi, cerpen, esai, naskah lakon dan pemberitaan kegiatan seni dan kebudayaan dari seluruh Indonesia.

KANTOR REDAKSI: JL. Kelapa Sawit V/6 RT02 RW04 Megawon, Jati, Kudus, 59342 TELEPON/HP: 0857-1203-0122 PENERBIT: INIIBUBUDI TERDAFTAR: AHU-0023706-AH.01.16 Tahun 2026 No. Akta: 73 DONASI KASIH INIIBUBUDI: Rekening Bank BRI KC Kudus Nomor: A/C 0038-01-003875-56-6 E-MAIL REDAKSI: iniibubudi.publishing@gmail.com

Ikuti di Instagram: