
Ketika Teater Mengukur Dirinya Sendiri
ESAI
Oleh: Imam Khanafi
MENGINJAK usianya yang ke-23, Teater Djarum pada Oktober 2026 berpentas, bukan sekadar peristiwa untuk merayakan usia sebuah kelompok teater. Melalui produksi ke-43 berjudul Kepala Badan, garapan Asa Jatmiko, Teater Djarum seperti sedang menggelar sebuah pernyataan tentang keberadaan dirinya di tengah kehidupan kesenian. Saya membaca pertunjukan ini sebagai sebuah aksi eksistensi diri, sebuah cara untuk menunjukkan bahwa mereka masih ada, masih bekerja, dan masih memiliki sesuatu yang ingin disampaikan kepada publik. Perayaan ulang tahun itu akhirnya tidak berhenti pada seremoni, melainkan menjelma menjadi peristiwa artistik yang sekaligus mempertanyakan sejauh mana sebuah kelompok teater mampu mempertahankan dan mengembangkan dirinya.
Bagi sebuah kelompok teater, bertahan selama 23 tahun tentu bukan perkara sederhana. Ada perjalanan panjang yang di dalamnya terdapat pergantian anggota, proses regenerasi, perubahan kecenderungan artistik, hingga berbagai persoalan yang mungkin tidak pernah diketahui penonton. Karena itu, keberadaan sebuah kelompok tidak cukup diukur dari berapa lama usianya atau berapa banyak produksi yang pernah dihasilkan. Eksistensi justru perlu dibuktikan melalui keberanian untuk terus bekerja, menguji kemungkinan, dan menghadirkan sesuatu yang membuat keberadaan kelompok tersebut tetap memiliki arti.
Kepala Badan menarik perhatian saya karena memperlihatkan usaha Teater Djarum untuk keluar dari kebiasaan bentuk pertunjukan yang selama ini lekat dengan pendekatan realisme. Kali ini, surealisme, absurditas, permainan tubuh, koreografi, instalasi, dan multimedia menjadi bagian dari bahasa pemanggungan yang ditawarkan kepada penonton. Tubuh-tubuh tanpa kepala, ruang rumah sakit, bangsal pasien, serta gerakan yang ganjil membangun gambaran tentang manusia yang kehilangan kesadaran dan kendali atas dirinya sendiri. Ada keinginan untuk tidak sekadar mengulang formula yang sudah dikenal, tetapi mencoba menemukan kemungkinan artistik yang lebih luas.
Cerita tentang orang-orang yang menderita sakit kepala dalam pertunjukan ini dapat dibaca lebih jauh daripada sekadar persoalan penyakit fisik. Wabah yang mereka alami terasa seperti gambaran masyarakat yang sedang mengalami gangguan kesadaran, kehilangan kemampuan berpikir, dan hidup dalam sistem yang perlahan menggerus kemanusiaan. Ada sesuatu yang bekerja di balik keadaan tersebut, sesuatu yang membuat orang-orang tidak lagi sepenuhnya mampu mengenali dirinya maupun mempertanyakan keadaan yang menimpanya. Dengan demikian, rumah sakit dan bangsal pasien tidak hanya menjadi ruang kejadian, tetapi juga metafora tentang masyarakat yang sedang sakit dan tidak mengetahui bagaimana cara menyembuhkan dirinya sendiri.
Saya tertarik pada gagasan bahwa semua orang seolah masuk ke dalam perangkap sebuah program pandemi sakit kepala. Mereka dibuat sakit, kota menjadi lumpuh, dan dalam keadaan itulah sesuatu yang paling berharga dari manusia perlahan dirampas, yakni kemampuan berpikir atau cogito ergo sum. Gagasan ini membawa pertunjukan pada persoalan yang lebih politis dan filosofis tentang bagaimana manusia dapat kehilangan kebebasan ketika kesadarannya dikendalikan oleh suatu sistem. Namun, persoalan tersebut tidak disampaikan melalui ceramah atau penjelasan yang gamblang, melainkan melalui tubuh, gerak, situasi absurd, dan hubungan antartokoh yang terasa ganjil. Penonton diajak berhadapan dengan sebuah keadaan yang tidak sepenuhnya masuk akal, tetapi justru terasa dekat dengan kenyataan kehidupan sehari-hari.
Dalam beberapa bagian, kehadiran tokoh yang mengusik kenyamanan tokoh lain menjadi penting untuk membaca hubungan antara kepatuhan dan kesadaran. Penolakan terhadap tindakan yang selama ini dianggap biasa membuka kemungkinan untuk mempertanyakan kembali batas kebebasan seseorang. Sebab, sesuatu yang terus-menerus dilakukan belum tentu benar, sebagaimana sesuatu yang dianggap normal belum tentu manusiawi. Di tengah masyarakat yang terbiasa mengikuti aturan tanpa bertanya, keberanian untuk menolak justru dapat menjadi tindakan pertama untuk mengembalikan kesadaran.
Secara artistik, pertunjukan ini memperlihatkan usaha untuk membangun pengalaman panggung melalui berbagai unsur yang tidak berdiri sendiri. Tubuh pemain, ruang, properti, video, tata visual, dan gerak dirancang untuk saling berhubungan dalam membangun suasana dramaturgis. Dalam catatan proses kreatifnya, Wijayanto Franciosa menjelaskan pengembangan premis naskah menjadi delapan karakter tubuh penari, sementara Andreas Teguh memperlihatkan bagaimana pembacaan naskah diterjemahkan ke dalam pengalaman tubuh pemain. Instalasi video bangsal pasien pun tidak sekadar menjadi pelengkap visual, tetapi diupayakan untuk memperluas pengalaman penonton dalam membaca ruang pertunjukan.
Hal semacam ini memperlihatkan bahwa sebuah pementasan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan aktor mengucapkan dialog dan menghafalkan naskah. Ada pemikiran yang harus bekerja sebelum tubuh pemain hadir di hadapan penonton, ada gagasan yang perlu diterjemahkan ke dalam bentuk, dan ada keputusan artistik yang harus dipertanggungjawabkan. Setiap unsur panggung semestinya memiliki alasan keberadaannya, bukan sekadar ditempatkan untuk membuat pertunjukan terlihat ramai atau menarik secara visual. Di sinilah kerja teater menemukan kompleksitasnya, karena sebuah gagasan tidak otomatis menjadi pertunjukan yang kuat tanpa melalui proses pencarian dan pengolahan yang sungguh-sungguh.
Dari situ, saya melihat bahwa Teater Djarum bukan hanya sedang menunjukkan eksistensinya, tetapi juga memperlihatkan keinginan untuk membangun standar tentang bagaimana sebuah kelompok teater seharusnya hidup dan bagaimana sebuah pertunjukan sebaiknya dikerjakan. Standar tersebut tidak harus dimaknai sebagai aturan baku yang wajib diikuti semua kelompok, melainkan sebagai ukuran tentang keseriusan dalam mengelola proses kreatif dan mengembangkan kemampuan artistik. Ada semacam pernyataan bahwa teater bukan sekadar kegiatan berkumpul, berlatih, kemudian tampil di hadapan penonton. Teater merupakan kerja yang membutuhkan gagasan, kedisiplinan, pembagian tanggung jawab, keberanian mengambil keputusan, serta kesediaan untuk terus mengevaluasi hasil pekerjaan sendiri.
Keinginan membangun standar itu menjadi menarik apabila diletakkan dalam konteks kehidupan kelompok teater di Kudus. Sebab, kehidupan teater tidak hanya membutuhkan orang-orang yang memiliki keinginan untuk bermain, tetapi juga membutuhkan lingkungan yang memungkinkan proses kreatif berlangsung secara berkelanjutan. Sebuah kelompok perlu memiliki cara untuk merawat anggotanya, mengembangkan kemampuan, mengelola produksi, dan membangun hubungan dengan penonton. Dalam pengertian ini, Teater Djarum sedang menawarkan gambaran bahwa keberlangsungan kelompok teater perlu diusahakan melalui sistem kerja yang jelas, bukan hanya bergantung pada semangat sesaat atau figur tertentu.
Namun, standar pertunjukan yang layak tidak boleh disempitkan menjadi persoalan kelengkapan produksi, kemegahan panggung, atau kecanggihan teknologi. Sebuah pertunjukan tidak otomatis menjadi baik hanya karena melibatkan banyak orang, menggunakan multimedia, menghadirkan instalasi, atau memiliki tata artistik yang rumit. Ada pertunjukan sederhana yang mampu menghadirkan gagasan jauh lebih tajam daripada pertunjukan yang dibangun dengan sumber daya besar. Karena itu, ukuran kelayakan seharusnya terletak pada hubungan antara gagasan, bentuk, dan ketepatan cara mengolah seluruh unsur artistik.
Surealisme, misalnya, tidak cukup hanya menghadirkan sesuatu yang ganjil, sebagaimana absurditas tidak cukup hanya membuat penonton kebingungan. Keanehan harus memiliki logika internal yang membuatnya bekerja sebagai bahasa artistik, sementara kebingungan semestinya membuka ruang pemikiran, bukan sekadar menjadi akibat dari gagasan yang tidak tersampaikan. Penonton memang tidak harus memahami seluruh maksud sutradara, tetapi pertunjukan perlu memberikan pengalaman yang memungkinkan mereka membangun pemaknaan sendiri. Justru di situlah tantangan sebuah karya, yakni bagaimana menghadirkan sesuatu yang tidak biasa tanpa kehilangan hubungan dengan persoalan manusia yang ingin dibicarakan.
Di sisi lain, membangun standar juga menyimpan kemungkinan persoalan apabila tidak disertai keterbukaan. Jangan sampai standar yang dibangun oleh satu kelompok berubah menjadi ukuran tunggal untuk menilai kelompok teater lainnya. Setiap kelompok memiliki pengalaman, sumber daya, tradisi, kemampuan, dan pilihan artistik yang berbeda sehingga tidak semuanya harus bekerja dengan pola produksi yang sama. Standar yang sehat seharusnya menjadi dorongan untuk memperbaiki kualitas kerja sendiri, bukan menjadi alat untuk menentukan bahwa hanya bentuk pertunjukan tertentu yang pantas disebut sebagai teater yang baik.
Ada satu hal lain yang menurut saya menarik untuk dipikirkan, yakni posisi para pemain Teater Djarum sebagai buruh-aktor sebagaimana disebutkan dalam salah satu catatan proses kreatif Khothibul Umam. Sebutan tersebut membawa kita pada hubungan antara kehidupan sehari-hari, pengalaman bekerja, dan keterlibatan seseorang dalam ruang kesenian. Pengalaman sebagai pekerja mungkin memberikan pemahaman tersendiri tentang disiplin, waktu, tanggung jawab, dan kerja kolektif yang kemudian dibawa ke dalam proses teater. Namun, dari situ juga muncul pertanyaan tentang bagaimana kebebasan artistik tumbuh di dalam sebuah kelompok yang memiliki hubungan dengan lingkungan korporasi.
Bagaimana perbedaan pendapat mendapatkan tempat dalam proses kreatif? Sejauh mana pemain memiliki ruang untuk mengajukan gagasan, mempertanyakan keputusan, bahkan menyampaikan ketidaksetujuan terhadap pilihan artistik yang telah ditentukan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan tuduhan terhadap Teater Djarum, melainkan bagian dari refleksi tentang kehidupan sebuah kelompok yang ingin terus mengembangkan kreativitas anggotanya. Sebab, keberhasilan sebuah kelompok tidak hanya ditentukan oleh kemampuannya menghasilkan pertunjukan, tetapi juga oleh kemampuannya menciptakan ruang yang memungkinkan setiap orang tumbuh sebagai manusia dan seniman.
Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika dihubungkan dengan gagasan utama Kepala Badan. Pertunjukan ini berbicara tentang manusia yang kehilangan kendali atas dirinya, tentang kepatuhan, dan tentang sistem yang perlahan mengambil kemampuan manusia untuk berpikir. Akan lebih menarik apabila persoalan tersebut tidak hanya menjadi sesuatu yang dimainkan di atas panggung, tetapi juga menjadi bahan refleksi bagi kelompok yang mengerjakannya. Sebuah kelompok teater tentu tidak harus menjadi ruang yang sempurna, tetapi setidaknya perlu menjadi tempat orang-orang dapat belajar mendengarkan, mempertanyakan, berbeda pendapat, dan menemukan kemungkinan baru tanpa kehilangan kebebasan artistiknya.
Pada akhirnya, saya kira ada dua hal yang dapat dibawa pulang setelah menyaksikan Kepala Badan. Pertama, sebuah kelompok teater perlu terus menemukan alasan mengapa dirinya harus ada, dan alasan itu tidak cukup dijawab dengan usia panjang atau jumlah produksi. Kedua, keberadaan tersebut harus disertai kesediaan untuk terus menguji kualitas kerja, memperluas bahasa artistik, dan membuka ruang bagi perkembangan anggotanya. Dalam konteks ini, produksi ke-43 Teater Djarum menjadi penanda bahwa perjalanan kelompok tidak harus selalu bergerak dalam bentuk yang sama, tetapi dapat terus mencari dan menguji kemungkinan-kemungkinan baru.
Tahun ke-23 Teater Djarum ini dan selanjutnya, semestinya tidak hanya menjadi kesempatan untuk melihat apa yang sudah dicapai, tetapi juga untuk memikirkan apa yang belum dikerjakan. Sebuah kelompok yang telah melewati perjalanan panjang memiliki tanggung jawab untuk tidak berhenti pada keberhasilan mempertahankan diri, melainkan turut memikirkan kehidupan teater yang lebih luas. Akan sangat berarti apabila pengalaman, pengetahuan, dan standar kerja yang dibangun Teater Djarum dapat menjadi ruang perjumpaan dan pertukaran dengan kelompok-kelompok teater lain. Sebab, kehidupan teater tidak akan tumbuh hanya karena satu kelompok menjadi besar, tetapi karena semakin banyak kelompok memiliki kesempatan untuk hidup, bekerja, dan berkembang bersama.
Selamat untuk Teater Djarum. Semoga panggung tidak hanya menjadi tempat untuk mempertunjukkan karya, tetapi juga ruang untuk terus belajar, mempertanyakan, dan menemukan kemungkinan-kemungkinan baru. Semoga keberanian artistik yang diperlihatkan melalui Kepala Badan tidak berhenti sebagai percobaan satu produksi, melainkan menjadi bagian dari kebiasaan untuk terus menguji diri dan memperluas cara pandang. Sebab, eksistensi sebuah kelompok teater pada akhirnya bukan hanya ditentukan oleh seberapa lama ia bertahan dan seberapa sering ia tampil, melainkan oleh seberapa besar kesediaannya merawat kebebasan, mengembangkan pengetahuan, dan memberi arti bagi kehidupan kesenian. (*)
Pentas "Kepala Badan" Teater Djarum:
Ketika Teater Mengukur Dirinya Sendiri
Oleh. Imam Khanafi


--------------------------
IMAM KHANAFI
Penulis esai dan penonton teater yang tinggal di Kudus

Iniibubudi © 2027 | Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Iniibubudi.com merupakan media sastra dan budaya, terbit setiap bulan. Menerima karya-karya: puisi, cerpen, esai, naskah lakon dan pemberitaan kegiatan seni dan kebudayaan dari seluruh Indonesia.
KANTOR REDAKSI: JL. Kelapa Sawit V/6 RT02 RW04 Megawon, Jati, Kudus, 59342 TELEPON/HP: 0857-1203-0122 PENERBIT: INIIBUBUDI TERDAFTAR: AHU-0023706-AH.01.16 Tahun 2026 No. Akta: 73 DONASI KASIH INIIBUBUDI: Rekening Bank BRI KC Kudus Nomor: A/C 0038-01-003875-56-6 E-MAIL REDAKSI: iniibubudi.publishing@gmail.com
Ikuti di Instagram:






