Lorong Kecemasan yang Tak Kunjung Usai

ESAI

Oleh: Yogi Swara Manitis Aji

9/15/2026

MENONTON kembali "Lurung Kalabendu" karya Joko Bibit Santosa pada 2026 menimbulkan perasaan yang agak ganjil. Naskah itu lahir pada 1997, ketika Indonesia berada di sebuah persimpangan sejarah yang genting. Krisis ekonomi mulai menghantam kehidupan masyarakat, ketegangan sosial meningkat, sementara rezim Orde Baru sedang menuju keruntuhannya. Namun ketika lakon ini hadir kembali di panggung Taman Budaya Jawa Tengah melalui Teater Jaten Batang, jarak hampir tiga puluh tahun itu terasa tidak cukup jauh untuk membuat kegelisahan yang dibawanya menjadi usang.

Justru sebaliknya. Banyak kecemasan yang dahulu dibaca sebagai tanda sebuah zaman kini terasa sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Hanya bentuknya yang berubah. Jika pada 1997 ketidakpastian terutama dirasakan melalui tekanan ekonomi dan politik, hari ini kecemasan telah menyebar ke hampir seluruh ruang kehidupan: pekerjaan, konsumsi, hutang, keluarga, media sosial, bahkan cara seseorang menilai dirinya sendiri. Karena itu, relevansi Lurung Kalabendu hari ini tidak cukup dibuktikan dengan menunjukkan bahwa persoalan dalam naskah masih terjadi. Yang lebih penting adalah membaca mengapa persoalan itu terus berulang dengan wajah yang semakin kompleks.

Di sinilah pementasan Teater Jaten Batang sesungguhnya memiliki peluang artistik yang besar sekaligus menghadapi tuntutan yang tidak ringan. Membawa naskah 1997 ke panggung 2026 semestinya bukan sekadar menghidupkan kembali dunia yang telah dibangun Joko Bibit. Pementasan perlu melakukan kerja penafsiran terhadap zaman yang berbeda. Teks lama perlu diberi kemungkinan untuk berhadapan dengan kenyataan baru, bahkan kalau perlu dipaksa berkonfrontasi dengannya.

Dalam beberapa bagian, pementasan masih terasa cukup percaya kepada kekuatan teks. Konflik dan persoalan sosial telah tersedia di dalam naskah tetapi tidak semuanya memperoleh tekanan panggung yang membuat persoalan tersebut menjadi pengalaman langsung bagi penonton. Dialog kadang masih bekerja sebagai pembawa informasi dan gagasan, sementara tubuh aktor, ruang, bunyi, tempo, serta keheningan belum selalu mengambil porsi yang sama kuat dalam membangun makna.

Ini penting karena "Lurung Kalabendu" bukan naskah yang kekurangan persoalan. Justru karena gagasannya sudah padat, panggung tidak perlu terlalu banyak menjelaskannya. Persoalan kemiskinan, keterdesakan, keretakan hubungan sosial, atau perubahan nilai akan jauh lebih kuat jika penonton mengalaminya melalui situasi dramatik, bukan sekadar mendengarnya melalui percakapan tokoh. Ketika dialog terlalu dominan menjelaskan apa yang sebenarnya dapat diperlihatkan oleh tindakan, teater kehilangan sebagian daya khasnya.

Kritik ini terutama terasa pada gagasan tentang lurung itu sendiri. Gang sempit dalam naskah bukan hanya latar tempat berlangsungnya peristiwa. Ia mempunyai kemungkinan menjadi metafora sosial dan psikologis yang sangat kuat. Manusia yang hidup di dalamnya seharusnya tidak sekadar terlihat berada di sebuah ruang sempit, tetapi mengalami keterbatasan pilihan, tekanan sosial, dan perasaan seolah tidak memiliki jalan keluar. Jika ruang panggung lebih aktif bekerja sebagai bagian dari konflik, tekanan lakon tentu akan terasa lebih dalam.

Hal serupa berlaku pada aktor. Beberapa karakter sudah memiliki fungsi dramatik yang jelas, tetapi masih ada ruang untuk memperdalam kontradiksi batin mereka. Tokoh-tokoh dalam "Lurung Kalabendu" akan menjadi lebih menarik ketika mereka tidak sekadar menjadi representasi orang miskin, orang tua, anak muda, atau korban perubahan sosial, melainkan manusia yang mempunyai kehendak, kelemahan, kompromi, dan kesalahan. Kemiskinan, misalnya, tidak selalu menghasilkan manusia yang baik; begitu pula kemapanan tidak otomatis melahirkan manusia yang buruk. Kerumitan semacam itu justru yang membuat kritik sosial tidak jatuh menjadi hitam-putih.

Persoalan yang paling menarik sebenarnya terletak pada cara pementasan ini membaca Jawa. Sebab "Lurung Kalabendu" mempunyai kemungkinan untuk berbicara lebih jauh daripada sekadar mempertontonkan kehidupan masyarakat Jawa. Ia dapat menguji apakah nilai-nilai yang selama ini disebut sebagai kejawaan masih memiliki daya di tengah perubahan sosial yang begitu cepat.

Kita masih berbicara tentang kerukunan, tepa selira, unggah-ungguh, dan gotong royong, tetapi kehidupan sehari-hari memperlihatkan bagaimana nilai-nilai tersebut terus bernegosiasi dengan kepentingan ekonomi dan ambisi individual. Di sinilah Jawa semestinya tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang romantis dan sudah selesai. Jawa justru menarik ketika nilai-nilainya mengalami benturan dengan kenyataan.

Sebab problem kebudayaan kita hari ini bukan semata-mata bahwa anak muda tidak lagi mengenal tradisi atau bahwa bahasa Jawa semakin jarang digunakan. Masalah yang lebih serius adalah ketika bahasa dan tradisi masih dipelihara sebagai simbol, sementara nilai yang dahulu memberi arah pada kehidupan bersama semakin kehilangan daya. Kebudayaan akhirnya dipertahankan sebagai identitas, tetapi tidak lagi cukup kuat sebagai etika.

Pada titik ini, "Lurung Kalabendu" terasa semakin dekat dengan keadaan sekarang. Masyarakat hari ini tidak hanya menghadapi kemiskinan dalam pengertian lama. Ada bentuk kemiskinan baru yang tumbuh dari budaya konsumsi dan perbandingan sosial. Orang tidak cukup hanya memiliki kebutuhan pokok; ia juga didorong untuk memiliki sesuatu agar dianggap berhasil. Media sosial memperluas tekanan itu tanpa batas. Kehidupan orang lain setiap hari masuk ke rumah kita melalui layar dan diam-diam menjadi ukuran untuk menilai kehidupan sendiri.

Perubahan semacam ini sebenarnya dapat menjadi wilayah tafsir yang sangat subur bagi Teater Jaten Batang. Hutang, misalnya, tidak harus berhenti sebagai persoalan ekonomi sebagaimana konteks 1997. Dalam konteks hari ini, hutang dapat dibaca sebagai bagian dari budaya konsumsi yang membuat manusia membeli bukan hanya karena membutuhkan, tetapi karena takut tertinggal dari lingkungannya. Dengan memasukkan lapisan semacam ini secara lebih organik ke dalam bahasa panggung, Kalabendu tidak hanya menjadi gambaran tentang masa lalu, tetapi pembacaan terhadap masyarakat kontemporer.

Di sinilah saya kira pementasan ini masih dapat didorong lebih jauh. Ia sudah memiliki bahan untuk menjadi kritik sosial, tetapi sesekali masih berhenti pada penggambaran persoalan. Padahal yang diperlukan adalah keberanian untuk mengganggu penonton. Bukan dengan memperkeras suara atau memperbanyak simbol, melainkan dengan membuat penonton merasa bahwa persoalan yang sedang berlangsung di panggung ternyata juga merupakan bagian dari cara hidup mereka sendiri.

Teater akan kehilangan sebagian daya kritisnya jika penonton dapat dengan mudah menempatkan masalah di atas panggung sebagai masalah “orang lain”: masalah orang miskin, masalah kampung, masalah generasi tertentu atau masalah masyarakat Jawa yang sedang berubah. Lurung Kalabendu akan jauh lebih kuat apabila batas antara mereka dan kita dibuat semakin kabur. Penonton perlu dibuat curiga bahwa lorong yang sedang mereka lihat sebenarnya tidak jauh berbeda dengan ruang sosial yang mereka tempati setiap hari.

Karena itu, keberhasilan pementasan ini pada akhirnya tidak terutama ditentukan oleh seberapa setia ia kepada naskah. Kesetiaan semacam itu tentu penting, tetapi teater yang hidup selalu membutuhkan keberanian untuk menafsirkan kembali. Joko Bibit menulis pada 1997 dengan kecemasan zamannya; Teater Jaten Batang hidup pada 2026 dengan kecemasan yang berbeda. Pertemuan keduanya seharusnya menghasilkan sesuatu yang lebih dari sekadar pementasan ulang.

Hampir tiga puluh tahun berlalu dan kita ternyata masih berbicara tentang tekanan ekonomi, keretakan sosial, kegelisahan keluarga, perubahan nilai, dan manusia yang kehilangan pegangan. Yang berubah adalah perangkat dan kecepatannya. Mungkin justru itu yang membuat Lurung Kalabendu terasa menyakitkan ketika dipentaskan kembali: bangsa ini telah bergerak sangat jauh secara teknologi dan material, tetapi sejumlah persoalan mendasar tentang bagaimana manusia hidup bersama ternyata belum banyak beranjak.

Dari sini judul Lurung Kalabendu memperoleh makna yang semakin luas. Lorong itu bukan lagi sekadar ruang kampung dalam sebuah naskah, melainkan gambaran tentang kehidupan sosial yang menyediakan banyak gerak tetapi tidak selalu menawarkan arah. Kita dapat berjalan cepat, berpindah, membeli, mengakses informasi, membangun citra, dan mengubah gaya hidup, tetapi semua itu belum menjawab pertanyaan yang lebih mendasar tentang untuk apa semua kemajuan tersebut jika manusia justru semakin cemas menjalani hidupnya.

Teater Jaten Batang patut diapresiasi karena telah membawa pertanyaan itu kembali ke ruang publik. Tetapi justru karena pertanyaannya penting, pementasan ini layak dituntut lebih jauh: lebih berani menafsirkan, lebih hemat dalam menjelaskan, lebih tajam membaca perubahan zaman, dan lebih dalam menggali konflik nilai yang berlangsung di dalam manusia Jawa hari ini.

Sebab "Lurung Kalabendu" tidak membutuhkan panggung yang sekadar membuat kita mengenang 1997. Ia membutuhkan panggung yang membuat kita sadar bahwa sebagian dari kecemasan tahun itu belum pernah benar-benar pergi.

Barangkali ia hanya berganti pakaian.

Dan kita, hampir tiga puluh tahun kemudian, masih berjalan di lorong yang sama sambil menyebutnya sebagai jalan menuju kemajuan.(*)

Pengantar Redaksi:
Teater Jaten dari Batang tahun ini mider kutha di antaranya berpentas di Batang, Kudus dan Solo. Dalam pertunjukannya di Auditorium UMK Kudus, Khothibul Umam menuliskan apresiasinya dalam tajuk "Siksaan yang Manis dari Pentas Lorong Kalabendu". Ia lebih menyoroti pemakaian bahasa (dialek) berikut semiotikanya oleh para aktor.

Pada pertunjukannya di TBJT Solo, Yogi Swara Manitis Aji terpantik untuk turut urun catatan. Bagaimana kontekstualitas Lorong Kalabendu dan harapannya untuk lebih jauh, lebih berani, lebih dalam dan lebih tajam mendedah sebuah "lurung". Mari kita simak selengkapnya. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Membaca Lurung Kalabendu Joko Bibit Santosa dalam Pementasan Teater Jaten Batang di TBJT 2026:
Lorong Kecemasan yang Tak Kunjung Usai

Oleh. Yogi Swara Manitis Aji

--------------------------
YOGI SWARA MANITIS AJI
Sutradara, aktor, pengajar dan pimpinan Kelompok Kerja Teater Akar, Solo.

Iniibubudi © 2027 | Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Iniibubudi.com merupakan media sastra dan budaya, terbit setiap bulan. Menerima karya-karya: puisi, cerpen, esai, naskah lakon dan pemberitaan kegiatan seni dan kebudayaan dari seluruh Indonesia.

KANTOR REDAKSI: JL. Kelapa Sawit V/6 RT02 RW04 Megawon, Jati, Kudus, 59342 TELEPON/HP: 0857-1203-0122 PENERBIT: INIIBUBUDI TERDAFTAR: AHU-0023706-AH.01.16 Tahun 2026 No. Akta: 73 DONASI KASIH INIIBUBUDI: Rekening Bank BRI KC Kudus Nomor: A/C 0038-01-003875-56-6 E-MAIL REDAKSI: iniibubudi.publishing@gmail.com

Ikuti di Instagram: