Dari Pipiek, Jimat, hingga Asa sebagai Jejak Ingatan dalam "Mencari Jejakmu"

ESAI

Oleh: Imam Khanafi

BUKU Mencari Jejakmu karya Pipiek Isfianti memiliki kekayaan citra, ingatan, spiritualitas, dan lanskap Kudus yang menjadikannya antologi dengan banyak kemungkinan pembacaan. Namun, kekayaan itu sekaligus menjadi persoalan utama kepenyairannya. Pipiek kerap menghadirkan benda, ruang, sejarah, dan lanskap dengan citraan yang sesungguhnya telah cukup kuat untuk membangun makna, tetapi kemudian buru-buru menjelaskan apa yang harus dirasakan atau dimaknai pembaca. Akibatnya, sejumlah puisi yang semestinya menyisakan gema justru kehilangan sebagian daya sugestinya karena makna telah ditutup oleh penjelasan.

Persoalan lain muncul ketika metafora dan citra ditumpuk tanpa hubungan internal yang cukup kuat, sehingga beberapa puisi terasa bergerak dari satu simbol ke simbol lain tanpa pijakan yang sepenuhnya meyakinkan. Kritik terhadap Mencari Jejakmu, karena itu, bukan terutama soal apakah Pipiek memiliki kekayaan pengalaman dan ia jelas memilikinya dan itu tentang bagaimana kekayaan tersebut dikendalikan menjadi bahasa puisi.

Untuk menjawab tesis saya dalam membaca buku Pipiek di atas, saya merasa perlu terlebih dahulu memperhatikan pembacaan-pembacaan lain terhadap buku tersebut. Dalam hal ini, esai Jimat Kalimasadha, “Saya Berhenti di Beberapa Baris”, dan esai Asa Jatmiko, “Jejak Rindu Seorang Pipiek Isfianti”, yang dimuat di iniibubudi.com, menawarkan dua jalan pembacaan yang berbeda. Keduanya untuk saya pertimbangkan agar kritik yang saya ajukan tidak menjadi kritik yang egois, melainkan memiliki jarak, dialog, dan pertimbangan terhadap pengalaman pembaca lain.

Membaca Mencari Jejakmu karya Pipiek Isfianti berarti memasuki sebuah ruang yang dipenuhi rindu, ingatan, spiritualitas, dan lanskap Kudus. Namun, antologi ini tidak hanya menawarkan persoalan tentang apa yang dirindukan, melainkan juga bagaimana sesuatu yang telah berlalu dapat terus hidup melalui benda, tempat, aroma, sejarah, dan bahasa. Jimat memilih berdiri sebagai pembaca yang mengalami puisi secara langsung. Ia tidak berusaha menentukan arti setiap puisi, melainkan memperhatikan bagian yang membuatnya terkesan, bertanya, atau justru merasa bahwa sebuah puisi masih dapat dibuat lebih kuat. Sikap ini karena puisi pada akhirnya bukan hanya milik penyair yang menulisnya, tetapi juga menjadi pengalaman pembaca yang berhadapan dengan kata, citra, dan ruang kosong yang ditinggalkannya.

Dari posisi tersebut, Jimat menemukan kekuatan Pipiek terutama ketika benda dibiarkan berbicara tanpa buru-buru diterjemahkan. Bau tanah, rel Rendeng, daun, rambut kelabu, makam, makanan, hingga batu tidak hadir semata sebagai benda, tetapi menjadi pintu menuju pengalaman batin. Di sinilah pembacaan Jimat menemukan persoalan estetik yang semakin kuat sebuah citra berdiri sendiri, semakin besar pula kesempatan pembaca menemukan maknanya melalui pengalaman mereka sendiri.

Pembacaan Jimat menjadi menarik karena ia tidak berhenti pada pujian terhadap citraan Pipiek. Ia juga menunjukkan bahwa beberapa puisi justru melemah ketika penyair terlalu cepat memberikan kunci terhadap simbol yang sebelumnya telah dibangun. Persoalannya bukan bahwa puisi tidak boleh menjelaskan, melainkan bahwa penjelasan yang datang terlalu cepat dapat menutup kemungkinan tafsir yang sebenarnya sudah dibuka oleh citra tersebut.

Hal itu tampak dalam pembacaan terhadap “Mencium Baumu di Simpang Tujuh”, ketika aroma tanah setelah hujan menjadi tombol yang menghidupkan kembali ingatan. Demikian pula “Tentang Daun” memperlihatkan bagaimana daun yang tercecer dapat berubah menjadi metafora kenangan yang hendak dirapikan agar tidak ada bagian dari cerita yang hilang. Pada “Pesan-Pesan yang Tak Pernah Kukirim”, daun, batang pohon, hujan, udara, dan aroma tembakau bahkan menjadi medium komunikasi yang justru terasa lebih kuat karena pesan tersebut tidak pernah benar-benar dikirim.

“Senja di Rel Rendeng” memperlihatkan kemungkinan yang lebih jauh lagi. Ketika rel menjadi gambaran dua manusia yang senantiasa berdekatan tetapi tidak pernah bertemu, metafora tersebut tidak berhenti sebagai kisah cinta personal. Rel juga membawa sejarah petani, buruh, pabrik gula, lori, dan kolonialisme sehingga luka pribadi bertemu dengan luka sejarah. Pada titik semacam ini, puisi Pipiek memiliki tenaga yang lebih besar karena benda tidak hanya menjadi cermin perasaan aku-lirik, tetapi juga menyimpan dunia di luar dirinya.

Jimat juga cukup jeli ketika mempertanyakan beberapa puisi yang menurutnya belum sepenuhnya menemukan pijakan. “Musim Ketiga”, misalnya, memiliki premis yang menarik melalui gagasan tentang musim sebagai ruang pertemuan sekaligus perpisahan, tetapi hubungan antara daun, udara kering, dingin, dan pengalaman perpisahan masih dapat diperdalam. Begitu pula “Namaku Batu”, dengan perubahan batu menjadi angin, kemudian sungai dan rumput, menghadirkan lompatan imaji yang menarik tetapi membutuhkan hubungan internal yang lebih kuat agar transformasinya tidak sekadar terasa sebagai perpindahan simbol.

Pertanyaan yang sama muncul dalam “Batas Sampai”, terutama ketika perjalanan, pantai, batas kota, sakit, dan pertanyaan tentang “aku” serta “siapa” bertemu dalam ruang yang sengaja dibuat samar. Kesamaran tentu bukan persoalan dengan sendirinya karena ambiguitas dapat menjadi kekuatan puisi. Persoalannya adalah apakah kesamaran tersebut menghasilkan ruang tafsir atau justru membuat pembaca kehilangan jangkar yang menjaga hubungan antarcitra tetap bekerja.

Di sini kritik Jimat sebenarnya dapat didorong sedikit lebih jauh. Istilah seperti “belum selesai”, “terlalu kabur”, atau “tergesa-gesa” akan menjadi lebih tajam apabila tidak hanya didasarkan pada rasa sebagai pembaca, tetapi juga diterangkan melalui bahasa, ritme, struktur, dan hubungan antarimaji. Dengan demikian, pengalaman personal pembaca tidak kehilangan tempat, tetapi justru memperoleh dasar analitis yang membuat kritiknya lebih kuat.

Kritik terhadap “Sate Kebo Mbah Bibit” juga memperlihatkan persoalan yang sama. Jimat merasa bahwa ketika puisi secara langsung menyebut “cinta kasih”, “hormat-menghormati”, dan “toleransi”, penyair seperti memberikan kesimpulan sebelum pembaca selesai mengalami peristiwa yang telah dibangun. Saya kira masalahnya bukan sekadar soal show, don't tell, sebab pernyataan langsung dalam puisi tidak otomatis menjadi kelemahan; dan apakah pernyataan itu masih menyimpan ketegangan puitik setelah citra sebelumnya bekerja.

Karena itu, persoalan utama bukan apakah Pipiek boleh menjelaskan makna puisinya, tetapi apakah penjelasan tersebut diperlukan. Jika sebuah benda, tindakan, atau lanskap telah cukup kuat menghasilkan kemungkinan makna, penjelasan yang terlalu panjang justru dapat mengurangi daya sugestinya. Puisi memiliki kekuatan bukan hanya karena mampu mengatakan sesuatu, tetapi juga karena mampu membuat pembaca merasakan sesuatu yang belum sepenuhnya dikatakan.

Sementara Jimat memperhatikan bagaimana puisi bekerja dari dekat, Asa Jatmiko membuka pandangan yang lebih luas terhadap keseluruhan antologi. Dalam “Jejak Rindu Seorang Pipiek Isfianti”, Asa membaca Mencari Jejakmu sebagai perjalanan batin yang bergerak dari kerinduan personal menuju spiritualitas, ingatan, cinta, dan pengalaman transendental. Rindu dalam pembacaan Asa tidak berhenti sebagai perasaan kepada seseorang, tetapi berkembang menjadi cara penyair mencari keterhubungan dengan ruang, masa lalu, cahaya, dan sesuatu yang melampaui dirinya.

Jika pembacaan Asa dan Jimat diletakkan berdampingan, tampak bahwa “rindu” menjadi salah satu pusat gravitasi antologi ini. Namun, rindu Pipiek tidak selalu mempunyai objek yang tetap: ia dapat mengarah kepada kekasih, kota, tokoh sejarah, figur spiritual, masa lalu, bahkan sesuatu yang transenden. Karena itu, “mu” dalam judul Mencari Jejakmutidak harus dibaca sebagai satu sosok tertentu, melainkan sebagai sesuatu yang terus dicari justru karena manusia menyadari bahwa kehilangan tidak pernah benar-benar mengakhiri ingatan.

Sejak “Batu-Batu yang Kau Susun”, jejak dalam antologi ini telah diletakkan sebagai sesuatu yang lebih hidup daripada benda mati. Batu bata merah, Menara Kudus, makam, hujan, daun, angin, Gunung Muria, dan Kaligelis menjadi semacam arsip puitik tempat masa lalu dipanggil kembali. Pipiek tampaknya tidak mengingat hanya melalui pikiran, tetapi melalui benda dan ruang yang pernah disentuh oleh pengalaman manusia.

Dari sini Kudus memperoleh kedudukan dalam Mencari Jejakmu. Kota tidak sekadar menjadi latar tempat puisi berlangsung, melainkan menjadi tubuh kedua bagi ingatan penyair. Ketika jalan, menara, sate kerbau, tebu, makam, rel, sungai, dan bau kota masuk ke dalam puisi, yang sedang dilakukan Pipiek bukan hanya mendeskripsikan geografis Kudus, tetapi mengubah tempat menjadi pengalaman batin.

Namun, justru di titik inilah kritik terhadap Pipiek harus dibaca ketika hampir setiap lanskap akhirnya dikembalikan kepada rindu, doa, kasih, cahaya, atau kehilangan, ada risiko bahwa dunia luar hanya menjadi cermin bagi perasaan aku-lirik. Kota, sejarah, tokoh, dan benda budaya akhirnya hanya berbicara sejauh mereka membantu memperkuat suara batin penyair. Padahal, sebuah kota memiliki kehidupannya sendiri, termasuk sejarah, konflik, luka, dan ingatan yang mungkin tidak selalu sejalan dengan perasaan orang yang sedang memandangnya.

Persoalan itu tampak dalam “Batu-Batu yang Kau Susun” dan “Ku Tunggu Kau di Gerbang Kotaku”. Batu bata, Menara Kudus, doa, berkah, gerbang, tembakau, angka, Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI tidak hanya dihadirkan sebagai benda atau tanda, tetapi juga segera diberi penjelasan mengenai maknanya. Pilihan semacam itu memperlihatkan keyakinan Pipiek terhadap nilai moral benda-benda budaya, tetapi pada saat yang sama membuat kemungkinan makna menjadi lebih sempit karena pembaca telah diberi arah sebelum sempat mengembara.

Di sinilah pembacaan Jimat menemukan relevansinya terhadap pembacaan Asa. Jika Asa menunjukkan betapa luasnya dunia yang dapat dibangun Pipiek dari rindu, sejarah, spiritualitas, dan kota, Jimat mengingatkan bahwa keluasan itu membutuhkan pengendalian bahasa. Semakin banyak lapisan yang hendak dibawa ke dalam sebuah puisi, tapi bagi penyair untuk memilih mana yang harus dikatakan dan mana yang sebaiknya dibiarkan bergetar di dalam diam.

Akan tetapi, ada satu kemungkinan lain yang justru membuat Mencari Jejakmu menarik: rindu dapat menjadi metode untuk membaca sejarah. Dalam “Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu”, misalnya, kerinduan bergerak di antara makam Kanjeng Sunan Kudus, soto kerbau, pabrik rokok, pekerja, daun tebu, dan sejarah perjuangan, sementara “Mencari Jejakmu” membawa pencarian Kalinyamat melewati Loram, Kriyan, Robayan, Mantingan, Keling, dan lanskap lainnya. Rindu dengan demikian tidak lagi hanya menjadi keadaan batin, tetapi menjadi cara menyusuri ruang dan memanggil kembali sesuatu yang telah lama terkubur.

Kemungkinan tersebut semakin kuat ketika puisi berhadapan dengan sejarah sosial. “Senja di Rel Rendeng” dan “Mengirim Rindu dari Kaligelis” menunjukkan bahwa rel dan sungai dapat membawa pembaca kepada persoalan yang jauh lebih luas: perdagangan, kolonialisme, pabrik gula, petani, buruh, Nitisemito, rumah-rumah tua, pasar, dan perubahan kota. Ketika puisi mampu menahan diri agar sejarah tidak hanya dijadikan latar bagi kerinduan, dunia yang dibangun Pipiek menjadi lebih kompleks karena benda-benda tersebut mulai mempunyai suara yang tidak seluruhnya tunduk kepada aku-lirik.

Dengan demikian, Mencari Jejakmu sesungguhnya menarik jika dibaca sebagai buku tentang ketegangan antara mengingat dan menciptakan ingatan. Penyair ingin menyelamatkan sesuatu dari kehilangan: pesan ditulis pada daun, nama ditinggalkan pada batang pohon, rindu dialirkan melalui Kaligelis, sementara jejak dicari di makam, gunung, rel, jalan, dan gerbang kota. Tetapi setiap tindakan mengingat selalu mengandung pilihan karena manusia tidak mungkin menyimpan seluruh masa lalu; ia memilih apa yang hendak dipertahankan dan membiarkan bagian lain perlahan menghilang.

“Pesan-Pesan yang Tak Pernah Kukirim” menjadi contoh yang menarik untuk melihat gagasan tersebut. Hujan, daun, udara tembakau, adzan, dan menara dibayangkan sebagai jaringan pengiriman pesan yang lebih tua daripada teknologi, seolah alam menyimpan bentuk komunikasi yang tidak membutuhkan perangkat. Sementara itu, “Mengirim Rindu dari Kaligelis” menjadikan sungai sebagai pembawa ingatan tentang perdagangan, kolonialisme, Nitisemito, rumah tua, pasar, dan sejarah kota, sehingga sungai bukan sekadar objek lanskap, melainkan arsip yang terus bergerak.

Pada akhirnya, jejak yang dicari Pipiek tidak pernah benar-benar identik dengan jejak yang ditemukan. Setiap kali manusia mengenang, ia sesungguhnya juga menyusun kembali sesuatu yang telah lewat melalui bahasa, pengalaman, dan sudut pandangnya sendiri. Karena itu, Mencari Jejakmu bukan hanya tentang seseorang yang mencari “mu”, tetapi tentang bagaimana manusia menciptakan kembali dunia yang hampir hilang melalui benda-benda yang masih tersisa.

Di sinilah Jimat, Asa, dan Pipiek bertemu dalam satu persoalan yang sama. Jimat mengingatkan bahwa puisi akan lebih kuat ketika penyair percaya kepada citra dan memberi pembaca ruang untuk menemukan, sementara Asa memperlihatkan bahwa di balik rindu terdapat perjalanan spiritual, sejarah, kota, dan ingatan yang lebih luas. Pipiek sendiri memperlihatkan kemungkinan bahwa benda sederhana batu, daun, sungai, rel, aroma tanah, makam, tembakau, bahkan makanan dapat menjadi jalan menuju sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya.

Karena itu, kekuatan utama Mencari Jejakmu justru berada pada ketegangan antara apa yang ingin dikatakan dan apa yang sebaiknya dibiarkan ditemukan. Pipiek mempunyai kekayaan pengalaman, lanskap, simbol, dan ingatan yang membuat puisinya memiliki banyak pintu masuk, tetapi beberapa pintu itu kadang ditutup kembali oleh penjelasan yang terlalu cepat atau metafora yang terlalu banyak ditumpuk. Jika pada satu sisi Asa memperlihatkan betapa luas dunia batin dan kultural yang dibangun Pipiek, pada sisi lain Jimat mengingatkan bahwa keluasan itu akan semakin kuat ketika bahasa memberi ruang bagi pembaca untuk ikut tinggal di dalamnya.

Mencari Jejakmu (mungkin) bukan sekadar antologi tentang rindu, melainkan tentang kerja ingatan itu sendiri: bagaimana manusia menyimpan seseorang, sebuah kota, sejarah, Tuhan, atau masa lalu melalui benda-benda yang tampaknya sederhana. Jejak tidak pernah benar-benar berhenti menjadi jejak karena setiap pembacaan akan mengubahnya, sebagaimana setiap kenangan selalu membawa kembali masa lalu dalam bentuk yang sedikit berbeda. Dan mungkin, di situlah puisi-puisi Pipiek menemukan makna terdalamnya: bukan ketika semua jejak berhasil dijelaskan, melainkan ketika setelah buku ditutup, masih ada sesuatu yang tertinggal dan membuat kita ingin kembali mencarinya.

Setelah seluruh jejak rindu, sejarah, spiritualitas, dan lanskap Kudus dibaca, persoalan utama Mencari Jejakmu kembali pada satu hal: Pipiek memiliki banyak hal untuk dikatakan, tetapi tidak setiap hal harus dikatakan secara langsung. Justru pada saat penyair menahan diri, membiarkan batu tetap menjadi batu, daun tetap berjatuhan, sungai terus mengalir, rel menyimpan sejarahnya, dan aroma tanah membangkitkan ingatan tanpa segera diberi kesimpulan, puisinya mencapai daya puitik yang lebih kuat. Sebaliknya, ketika simbol segera diterjemahkan, nilai moral ditegaskan, atau metafora ditumpuk tanpa jalinan yang cukup rapat, ruang tafsir pembaca menjadi menyempit dan sebagian tenaga puisi ikut melemah.

Di sinilah kritik Jimat menemukan titiknya dan sekaligus melengkapi pembacaan Asa: keluasan dunia Pipiek memang merupakan kekuatan, tetapi keluasan tanpa pengendalian bahasa dapat berubah menjadi beban bagi puisi itu sendiri. Maka, Mencari Jejakmu bukanlah antologi yang gagal, melainkan antologi yang memperlihatkan dengan jelas jarak antara kekayaan pengalaman dan kematangan pengucapan puitik. Pipiek telah memiliki jejak-jejak yang kaya untuk dicari; tantangan berikutnya adalah belajar meninggalkan sebagian jejak itu tanpa penunjuk arah, agar pembaca tidak sekadar sampai pada makna yang telah disediakan penyair, tetapi benar-benar mengalami proses pencariannya sendiri.(*)

Dari Diskusi Bedah Buku Antologi Puisi "Mencari Jejakmu"
Dari Pipiek, Jimat, hingga Asa sebagai Jejak Ingatan dalam "Mencari Jejakmu"

Oleh. Imam Khanafi

--------------------------
IMAM KHANAFI
Penulis tinggal di Kudus, selain menulis esai juga menulis puisi, cerpen, cerita anak dan pengarsip.

Iniibubudi © 2027 | Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Iniibubudi.com merupakan media sastra dan budaya, terbit setiap bulan. Menerima karya-karya: puisi, cerpen, esai, naskah lakon dan pemberitaan kegiatan seni dan kebudayaan dari seluruh Indonesia.

KANTOR REDAKSI: JL. Kelapa Sawit V/6 RT02 RW04 Megawon, Jati, Kudus, 59342 TELEPON/HP: 0857-1203-0122 PENERBIT: INIIBUBUDI TERDAFTAR: AHU-0023706-AH.01.16 Tahun 2026 No. Akta: 73 DONASI KASIH INIIBUBUDI: Rekening Bank BRI KC Kudus Nomor: A/C 0038-01-003875-56-6 E-MAIL REDAKSI: iniibubudi.publishing@gmail.com

Ikuti di Instagram: