
Mencacah Gagasan Memenggal ‘Akal dan Nurani’
ESAI
Oleh: Maseko BS
11/7/2026
Mencacah Gagasan Memenggal ‘Akal dan Nurani’
Artikel terkait:
MASIH terbayang, beberapa waktu lalu. Sadis. Bergidik. Traumatik menyatu dengan teror psikis tersaji pada pementasan produksi ke 43 Teater Djarum kali ini dalam lakon “Kepala Badan” naskah dan sutradara Asa Jatmiko, di Taman Budaya Sosrokartono Kudus, pada Sabtu 31 Oktober 2026 waktu itu menyedot perhatian saya pada saat aktor-aktornya hadir berbicara, berdialog meskipun tanpa kepala.
Dalam asumsi saya, kiranya tanpa kepala itu apakah berarti tidak ada mata untuk melihat, tidak ada mulut untuk berbicara dan mencecap, tidak ada hidung untuk membau atau mengendus, tidak ada telinga untuk mendengar. Bisa kita bayangakan sejenak jikalau ada makhluk atau manusia tanpa indera demikian. Akan terasa berbeda tentunya. Tentu, bisa dianggap tidak normal. Apalagi, yang tersisa hanya indera peraba, atau mungkin indera ke enam. Apa pula itu indera ke enam dalam sebuah drama? Apakah terkait dengan hal yang kasat mata, gaib, atau semacam laku spiritual?
Meskipun tokoh-tokoh di lakon “Kepala Badan” tanpa kepala itu tetap mampu berdialog, baik secara verbal, simbolik, maupun tanda melalui musik ilustrasinya atau tata cahaya dan artistiknya, sepertinya semua dikembalikan kepada penafsiran penonton masing-masing. Sesuai yang dilihat, dirasakan, didengar, juga dari sudut pandang pribadi.
Saya menangkap, bahwa tokoh yang tanpa kepala itu, adalah gagasan yang terpenggal atau barangkali sengaja dipenggal. Membayangkan jika seseorang tanpa kepala atau tanpa bisa berpikir, tanpa bisa berimajinasi, tanpa memiliki gagasan-gagasan barangkali tidak akan ada peristiwa yang menjadi latar sandiwara di semesta raya ini.
Saya pun berpikir, bagaimana jika ketika manusia itu setiap gagasan-gagasannya di penggal?
Tentunya, dalam lakon “Kepala Badan” tidak saja hadir secara gamblang dengan ide yang eksperimental kali ini, dibaliknya ada sesuatu yang disamarkan atau ditandai, misal adanya relasi kuasa dan kekuasaan. Siapa yang berkuasa, dan menjalankan kekuasannya dengan semau-maunya. Sebab, saat memiliki kekuasaan secara otomatis sesaat akan ada dorongan untuk melakukan kuasa secara semena-mena. Entah apapun alasannya, sebab kekuasaan itu juga candu bagi setiap penguasa yang haus akan pujian, validasi, dan bahkan setelahnya tidak mau kehilangan relasi kuasa terhadap kendali yang dimiliki.
Tentu saja, saat menonton “Kepala Badan” saya tidak menangkap dengan jelas setiap dialog, tetapi ketika gerombolan tokoh muncul tanpa kepala, perhatian saya hanya pada gagasan yang dipenggal itu tadi. Sudah, kemudian pikiran saya menjadi kemana-mana, dan hati saya was-was bertanya dan saya jawab sendiri, justru saya menonton itu dengan penuh gelisah dan kecemasan. Sampai kini masih terngiang-ngiang, dan menjadi traumatik ketika melihat manusia muncul tanpa kepala, sebut saja tanpa gagasan, atau yang akan mengusulkan sebuah gagasan akan dipenggal, sama dengan manusia itu tidak boleh memiliki gagasan atau tidak boleh ada waktu untuk berpikir.
Nah, manusia itu adalah rakyat-rakyat yang berada di bawah para penguasa. Saya menangkap, jalan keluar untuk mengungkapkan gagasannya, mendapatkan keadilan, mendapatkan kehidupan seutuhnya.
Secara garis besar, peristiwa terjadi di sebuah tempat, dan adegan memperlihatkan bagaimana tokoh-tokoh berapa dalam ruangan seperti rumah sakit gila. Pasien yang bergantung pada dokter dan perawat, begitu pun sebaliknya. Ketika ada pasien tentunya dokter dan perawat memiliki pekerjaan, yang artinya mereka memperoleh finansial yang layak, sementara pasien yang sakit tentu saja tidak mampu bekerja, kecuali sudah kaya atau memiliki warisan, dan atau sanak saudara pasien yang menanggung biaya perawatan. Saya membayangkan, bahwa pasien-pasien ini adalah implementasi dari rakyat-rakyat atau manusia yang menderita dan tidak mendapat keadilan.
Kembali kepada tokoh-tokoh yang saya sebutkan tadi, yaitu rakyat atau yang kemudian dijadikan pasien, atau rakyat yang dipaksa menjadi pasien itu sudah sakit, tetapi dipaksa menjadi ‘sapi perah’, eksperimen, dan dilarang berpikir untuk mengungkapkan gagasan, pemikirannya, juga angan-angan untuk mendapatkan cinta, keadilan, dan hidup selayaknya. Bahkan, untuk berimajinasi pun mereka dilarang, karena itu kepala si pasien harus dipenggal. Ironis bukan? Jika seseorang atau manusia hidup tanpa kepala, tanpa ide dan gagasan untuk memperoleh keinginannya. Kadang keinginan itulah yang justru membuatnya merasa hidup. Memenggal kepala mereka berarti sama dengan menuntaskan kehidupan mereka, bukan?
Pada balutan tata artistik yang penuh simbol dan warna-warni itu, perhatian saya tercuri oleh gambar di tengah slide, terbentang kain putih menutupi belakang panggung, dan di tengah ada gambar semacam kucing, atau kelinci atau mungkin buaya. Dan, jika itu memang gambar kucing, lalu ada sebuah dialog tokoh yang berkata, “....g*moy….” entah itu terjadi secara sengaja atau tidak sengaja, atau setiba-tiba saya langsung teringat pada sebuah penguasa yang memiliki kekuasan? Ya, ingatan saya adalah pada sebuah kata yang identik dengan seekor ‘kucing’ peliharaan salah satu tokoh penting di negeri ini. Ini asumsi saya sendiri, saya hampir terperanjat, dan menajamkan telinga saya, menebak-nebak untuk meyakinkan ingatan saya terhadap hal itu. Supaya saya tidak salah tafsir, sampai saya menyakan kepada sutradara sendiri, apa makna atau gambar binatang itu pastinya. “Silahkan tafsir sendiri”, demikian jawab dari sutradara pementasan itu.
Kalau boleh menilai secara gamblang, sutradara memberi ruang untuk bereksplorasi terhadap lakon yang diusung dengan sudut pandang masing-masing tanpa mengurangi esensi dan tujuan dalam penggarapan pementasan kali. Yang jelas, saya hingga sampai saat ini masih ngeri kalo membayangkan tokoh-tokoh di dalam lakon “Kepala Badan” itu bermain tanpa kepala, dan bagaimana gagasan-gagasan yang mereka miliki di’cacah’ sedemikian rupa agar tidak ada lagi ‘kepala’ mereka untuk berpikir, yang kritis di’gebuk’ kepalanya, yang melawan dipenggal ‘kepala’nya.
Untung saya masih punya kepala yang kemudian untuk berpikir, mengamati, dan mencerna, sekaligus meraba-raba apa isi makna dibalik balutan pementasan “Kepala Badan” kali ini?
Eksploratif, jelas. Saya melihat garapan kali ini, berbeda dengan pementasan Teater Djarum yang pernah saya lihat sebelumnya. Jika sebelumnya saya masih melihat pada takaran realita yang diusung dengan bentuk-bentuk dramaturgi yang terstruktur. Kali ini seolah mendobrak ranah kemapanan aturan dramatikal. Baik dari lakon, pemeranan, tata cahaya, hingga tata ilustrasinya memiliki peran masing-masing dan saling mengisi. Tampaknya, sutradara memberi ruang lebih keterlibatan setiap unsur dalam pementasan ini untuk memadupadankan setiap isi “kepala” yaitu: gagasan, ide-ide, akal atau daya inovasi kreativitas pelaku yang terlibat di dalamnya, dan “badan” antara rasa, insting, nurani pada setiap jengkal peristiwa yang menjadi dasar menuju sebuah pertunjukan yang syarat kolektivitas ke dalam mangkuk sajian yang utuh.
Sekali lagi, apapun itu sajian kali ini sangat berbeda, begitu pedas, asin, manis, juga mengandung mistis, ironis, ada balutan humorisnya, juga kritis. Selamat untuk Teater Djarum telah mampu mementaskan lakon “Kepala Badan” melampui batas-batas imajinasi yang normatif.(*)
Esai: Maseko BS


--------------------------
MASEKO BS
Pelaku seni teater, sutradara, dan penulis naskah lakon tinggal di Jepara.

Iniibubudi © 2027 | Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Iniibubudi.com merupakan media sastra dan budaya, terbit setiap bulan. Menerima karya-karya: puisi, cerpen, esai, naskah lakon dan pemberitaan kegiatan seni dan kebudayaan dari seluruh Indonesia.
KANTOR REDAKSI: JL. Kelapa Sawit V/6 RT02 RW04 Megawon, Jati, Kudus, 59342 TELEPON/HP: 0857-1203-0122 PENERBIT: INIIBUBUDI TERDAFTAR: AHU-0023706-AH.01.16 Tahun 2026 No. Akta: 73 DONASI KASIH INIIBUBUDI: Rekening Bank BRI KC Kudus Nomor: A/C 0038-01-003875-56-6 E-MAIL REDAKSI: iniibubudi.publishing@gmail.com
Ikuti di Instagram:






